STRATEGI IMPLEMENTASI TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK ORGANISASI.

I. Pendahuluan.

Pada dekade terakhir ini Perkembangan Teknologi Informasi atau Information Technology (disingkat IT) meningkat dengan pesat.  Pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat secara luas juga mengalami peningkatan yang sangat besar.  Berbagai kepentingan menjadi dasar pertimbangan, dari mulai hanya sebagai  life-style atau pelengkap sampai dengan menjadi perangkat dan sarana yang menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan (vital).  Hal ini bukan saja terjadi pada masing-masing individu masyarakat tetapi juga terjadi pada organisasi, instansi, pemerintah  secara luas.  Kebutuhan IT pada setiap  organisasi akan berbeda sesuai dengan intepretasi  dan visi yang akan diemban untuk dilakukan selanjutnya.

Dunia bisnis / usaha dalam bidang IT tentu saja mengalami imbas yang positif, berbagai perangkat IT untuk infrastruktur, service, maupun aplikasi, saat ini sangat  banyak tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk  dan fungsinya. Tarik-menarik ”supply-demand” ini akan terus mempercepat perkembangan IT. Semakin beragamnya kebutuhan yang muncul di masyarakat  akan menyebabkan semakin bergam pula perangkat dan sarana yang dikembangkan untuk ditawarkan.

Kondisi ini menyebabkan banyaknya alternatif solusi IT yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan  kebijakan pengembangan organisasi.  Selain itu, berbagai aspek dalam organisasi akan mengalami  dampak dari kebijakan pemanfaatan IT. Diperlukan kajian yang matang untuk melakukan implementasi  IT agar tidak mengalami kegagalan yang hanya membuang dana investasi tetapi dapat memberikan manfaat yang optimal bagi organisasi.

II. Merumuskan Tujuan Implementasi Teknologi Informasi.

Implementasi IT dalam kegiatan organisasi bertujuan untuk memberikan dampak yang positif dan signifikan.  Pemanfaatan IT untuk mendukung kegiatan operasional suatu organisasi baik dalam  skala kecil maupun besar, juga mengalami perubahan. Jika awalnya cenderung ke masalah citra organisasi, maka saat ini IT menjadi kebutuhan mendasar dalam menghadapi era global atau  dan  Good Governance.  Sebagai contoh adalah pengembangan e-Government.

Para pengambil keputusan menjadi faktor yang paling dominan dalam kebijakan pengembangan IT di masing-masing organisasi. Pemahaman terhadap visi organisasi dan pengetahuan dalam visi IT dari pimpinan, saling terkait dalam menentukan jenis perangkat IT yang akan diimplementasikan untuk mendorong kemajuan organisasinya. Namun keputusan pilihan perangkat IT apapun yang diambil akan mengakibatkan terjadinya perubahan. Perubahan yang tejadi dalam organisasi bukan hanya dari segi effisiensi kerja tetapi juga mempengaruhi budaya kerja baik secara personal, antar unit, maupun keseluruhan organisasi. Banyak contoh yang menunjukan kegagalan implementasi IT lebih didominasi oleh faktor pengguna seperti : tidak cocok dengan budaya, etika, atau politis yang selama ini telah berjalan di organisasi, keterbatasan keahlian atau bahkan penolakan atas perubahan. Atas dasar  inilah pembahasan akan lebih berorientasi ke aspek  manusia.

III. Teknologi Informasi Dalam Organisasi.

Pemanfaatan IT dalam suatu organisasi yang  dimaksud dalam pembahasan ini mencakup aspek-aspek dalam tiap tahap kegiatan IT seperti terlihat pada gambar berikut. Di tiap aspek tersebut memiliki  resiko kegagalan sehingga diperlukan strategi  implementasi.

Memilih Jenis Teknologi Informasi.

Tujuan utama pada perencanaan adalah memilih jenis IT yang paling tepat untuk diimplementasikan. Pemilihan ditentukan oleh :

•  Visi dan Misi yang ingin dicapai.

•  Urgenitas fungsi.

•  Nilai Investasi yang dimiliki.

•  Pengetahuan teknologi.

•  Metoda pengembangan.

Setiap faktor memiliki dasar pertimbangan sendiri sehingga perlu ditentukan faktor yang lebih prioritas.

Alternatif metoda yang dapat digunakan adalah :

•  pengembangan khusus sesuai kebutuhan (tailor-made) baik secara mandiri ataupun  melibatkan pihak lain (out sourcing ).

•  pengadaan (purchase) perangkat yang ada di pasaran baik berupa paket ataupun integrasi  dari berbagai perangkat.

Metoda yang dipilih akan mempengaruhi strategi  implementasi di tahap-tahap selanjutnya setelah perencanaan.

IV. Dampak Dari Implementasi  IT.

Dampak dari implementasi teknologi informasi dari pengamatan di lapangan terlihat bahwa banyak organisasi yang memandang pengembangan IT hanya  sebagai suatu ”proyek” penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini berakibat terhadap kesiapan  organisasi untuk memanfaatkan sistem secara optimal dan dampak perubahan yang ditimbulkannya dalam  berbagai aspek kegiatan. Sistem IT yang telah  dikembangkan dan diimplementasikan seakan-akan menjadi kurang bermanfaat.

Beberapa aspek dari dampak implementasi IT adalah:

•  Efisiensi waktu & biaya.

•  Kebutuhan perangkat & integrasi .

•  Availability & Keandalan

•  Kemampuan SDM

•  Budaya Kerja

Dampak positif yang secara umum diharapkan dari implementasi IT adalah terjadinya effisiensi waktu dan biaya yang secara jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomis yang sangat  tinggi. Oleh karena itu, pengoperasian secara optimal  merupakan perhatian utama. Dalam konteks ini, perlu dipertimbangkan bahwa hampir semua perangkat IT bersifat multi-fungsi sehingga dalam  pengembangan selanjutnya diupayakan terjadi integrasi perangkat.

Salah satu faktor yang akan sangat mempengaruhi optimalisasi pemanfaatan IT adalah ketersediaan  perangkat. Kebutuhan perangkat pada awal implementasi IT biasanya akan terus berkembang  sesuai dengan tingkat kemajuan organisasi. Faktor availability dan keandalan perangkat IT juga umumnya akan menjadi makin penting karena aspek ”ketergantungan” IT juga makin besar. Artinya  perlu terus dilakukan evaluasi kebutuhan perangkat.

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kemampuan Sumber Daya Manusia dari organisasi  dalam mengoperasikan dan memelihara sistem agar dapat berfungsi optimal dan berkesinambungan.  Kemampuan dan keandalan sistem yang tinggi dalam jangka panjang menjadi kurang berpengaruh apabila kemampuan SDM di dalam organisasi tidak ditingkatkan. Terjadinya perubahan budaya kerja  baik secara individu, kerjasama kelompok, maupun keseluruhan organisasi juga menjadi aspek yang tidak kalah pentingnya.

Dari pembahasan aspek-aspek di atas dapat disimpulkan bahwa perlu disiapkan strategi untuk menerapkan sistem secara optimal ke semua bagian organisasi sejak tahap perencanaan.

V. Pengelolaan Administrasi.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang pengaruh dari aspek-aspek yang disebutkan  di atas, diperlihatkan pada kasus implementasi IT dalam pengelolaan administrasi perkantoran. Sistem  seperti ini akan melibatkan semua personal dalam organisasi yang dioperasikan secara rutin oleh staf  administrasi dan bagian IT. Diharapkan akan terjadi effisiensi proses administrasi yang signifikan dan  biaya rutin dengan adanya implementasi IT.

VI. Kebutuhan Perangkat .

Dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan dan pemanfaatan perangkat yang sudah tersedia, maka dikembangkan sistem yang berbasis Web sebagai aplikasi utamanya. Aplikasi seperti ini  membutuhkan dukungan perangkat layanan standar internet dan infrastruktur dalam operasional sistem.  Akibatnya dari satu sisi akan terlihat bahwa operasi sistem administrasi berbasis IT relatif lebih ”mahal’.  Namun dari sisi lain, kebutuhan perangkat tersebut  bersifat multi-fungsi sehingga akan dapat digunakan untuk mendukung sistem IT lainnya yang akan dikembangkan di organisasi. Data yang telah diolah oleh staf administrasi tentunya diperlukan oleh semua personal terutama pimpinan untuk mendukung kegiatannya. Makin cepat proses  tentunya akan sangat membantu mereka. Selanjutnya  ketersediaan media akses terhadap data administrasi  akan makin meningkatkan kecepatan proses.  Oleh  karena itu, faktor kemampuan staf administrasi,  perbaikan dari sistem administrasi, dan meningkatnya kesadaran dari personal lainnya secara bertahap akan  memperbesar ”volume” operasi sistem IT.  Pada  kondisi ini akan perlu dilakukan penambahan dan penyempurnaan perangkat untuk meningkatkan aspek

Availibility & Reliability” sistem karena tingkat  ”ketergantungan” organisasi makin tinggi.  Perkembangan selanjutnya yang akan terjadi adalah kebutuhan untuk menyediakan berbagai jenis layanan  lain untuk mengakses sistem dengan pertimbangan  kemudahan dan teknologi seperti : email, mobile device, dll. Tentunya kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan konsekuensi terjadinya perluasan  sistem IT.

VII. Kebutuhan SDM  DiBidang Teknologi Informasi.

Operasi sistem administrasi konvensional hanya membutuhkan beberapa fungsi personal untuk mengelola yaitu : pusat pengolah administrasi dan staf di masing-masing unit untuk menerima dan mencatat data. Kebutuhan kemampuan dan jumlah SDM yang rendah akan dilihat sebagai effisiensi.

Sebaliknya, sistem administrasi berbasis IT selain  membutuhkan kemampuan pengelolaam administrasi, setidaknya juga akan memerlukan kemampuan operasi PC, LAN, pengelolaan server Web dan  Database. Kondisi ini sekilas memperlihatkan  “mahalnya” sistem termasuk kesulitan operasinya.

Dalam sistem IT, Pusat pengolah data administrasi memiliki 2 fungsi utama:

•  Pengolahan data, diantaranya adalah: data entry dan digitalisasi, misalnya  scan data, mengubah data  ke format pdf, dll.

•  aktivasi surat (menentukan klasifikasi dan mendistribusikan data)

Staf lain di masing-masing unit akan menerima data  dan ”menentukan” sendiri proses selanjutnya sesuai  dengan jenis dan sifat data. Kemampuan SDM yang makin tinggi dapat menyebabkan implementasi yang kurang lancar bahkan bukan tidak mungkin akan  menimbulkan penolakan. Jika dikaji lebih dalam, implementasi IT selain akan meningkatkan effisiensi kerja juga akan ”mereduksi”  jumlah SDM yang terlibat langsung tetapi perlu SDM lain untuk mendukungnya. Dengan peningkatan  kemampuan SDM akan terjadi effektivitas fungsi  SDM yang tinggi.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran personal lainnya terhadap manfaat sistem bagi dirinya dan kemudahan penggunaannya secara bertahap akan memberikan motivasi untuk meningkatkan kemampuan mereka.  Kondisi ini akan memudahkan bagi organisasi untuk meningkatkan kemampuan SDM secara menyeluruh.

VIII. STRATEGI IMPLEMENTASI .

1. Pertimbangan ekonomis .

Pertimbangan untung-rugi pada saat pemilihan perangkat IT yang akan diimplementasikan, menunjukan bahwa organisasi tersebut sudah siap untuk memanfaatkan IT secara optimal. Hal ini berarti bahwa organisasi tersebut tidak lagi berada dalam tingkatan ”latah” (contagion) sehingga kemungkinan  keberhasilan implementasi IT lebih besar. Nilai  ekonomis bukan saja dilihat dari investasi pengembangannya saja tetapi juga unsur manfaat dan keunggulan kompetitif.  Secara umum, pengadaan dan integrasi perangkat  memberikan keuntungan ekonomis lebih tinggi. Keuntungan ini perlu didukung dengan pertimbangan aspek kritikal & strategis IT organisasi serta antisipasi pada aspek Availibility & kemampuan SDM. Beberapa kriteria yang terkait adalah :

•  Ketergantungan yang tinggi pada pihak lain baik untuk aplikasi dan layanan yang vital,  operasi dan pemeliharaan perangkat lainnya, ataupun untuk pengembangan lanjut.

•  Keandalan dan fleksibiltas perangkat.

•  Kemudahan dalam implementasi .

•  Pengembangan SDM .

2. Pemberdayaan dan Pengembangan SDM.

Umumnya di tiap organisasi terdapat bagian yang  khusus menangani masalah IT.  Namun demikian, untuk menjamin agar sistem dapat diimplementasi dengan optimal dibutuhkan beberapa personal lain dari dalam organisasi pada semua tingkat kegiatan.  Personal dengan kualifikasi tertentu baik bagian IT maupun bagian lain perlu dilibatkan selain untuk memberi masukan juga untuk mempersiapkan mereka menghadapi perubahan. Keuntungan lainnya yang dapat diambil adalah ketergantungan organisasi  dan personilnya terhadap bagian IT karena kondisi ini bersifat kontra-produktif. Sebagai contoh dalam pemanfaatan IT untuk pengelolaan administrasi, personal yang menjalankan secara rutin proses administrasi konvensional (tata usaha atau kesekretariatan) sebaiknya dilibatkan sejak tahap perencanaan. Dengan pengetahuan yang  dimilikinya akan memberikan masukan yang berguna bagi pengambil kebijakan tentang ”keuntungan” yang dapat diperoleh dan apa yang terjadi nanti jika IT telah digunakan. Tentu saja masukan dari personal bagian IT akan menentukan kelayakan sistem yang akan digunakan.

Keterlibatan personal tata-usaha atau kesekretariatan dalam pengembangan sistem berbasis IT juga akan  memberikan pengaruh positif, baik untuk pilihan metoda ”tailor-made” ataupun metoda ”purchase”.  Pertimbangannya adalah masalah operasional rutin yang memang akan menjadi tugas mereka. Personal lain termasuk dari unsur pimpinan juga sebaiknya diikut-sertakan mengingat kegiatan administrasi pada dasarnya dilakukan oleh semua personal di organisasi. Semua personal yang terlibat ini berfungsi mewakili semua personal lainnya, dan dalam tim disebut sebagai ”Panel Pengguna”. Aspek  kemudahan dan keandalan sistem akan menjadi perhatian khusus bagi mereka.

Setelah sistem diimplementasikan, maka selanjutnya ada 3 (tiga) hal penting yang perlu diperhatikan :

A.  Beroperasinya semua perangkat sesuai  dengan spsesifikasi yang ditentukan saat  perencanaan dan perancangannya.

B.   Melakukan uji-coba penggunaan sistem IT  yang baru tsb. oleh Panel pengguna dan  personal bagian IT.

C.   Melakukan persiapan untuk memberlakukan pengoperasian sistem IT yang baru ke semua bagian organisasi. Termasuk di dalamnya adalah persiapan untuk pemeliharaan sistem.

Dalam kaitan inilah, sebaiknya sebelum tahap operasional sistem IT perlu ada tahap Alih-Kelola. Seringkali terjadi, kegagalan implementasi IT terjadi karena hanya memperhatikan point A di atas tanpa mengkaji lebih banyak untuk point B dan C di atas. Di lain pihak, kegiatan pada point A dan C di atas (termasuk dalam tahap Alih-Kelola) justru sangat terkait dengan aspek kemampuan SDM di organisasis. Pada tahap inilah dilakukan pembagian tugas  yang jelas dan rinci untuk semua personal yang terlibat di Panel Pengguna dan bagian IT.

Resiko kegagalan implementasi IT akan dapat ditekan. Faktor ketidak-cocokan budaya dan keterbatasan keahlian bahkan telah mulai diatasi pada tahap perencanaan. Peningkatan kemampuan SDM untuk pengoperasikan dan memelihara sistem dilakukan pada tahap ini karena terjadi interaksi langsung antar pengguna dan pengembang. Sisi positif lainnya dari tahap Alih-Kelola adalah menciptakan budaya kerja baru bagi semua personal yang terlibat sehingga dapat menjadi ”motor  penggerak” bagi personal lainnya di organisasi ybs.  Perlu diingat bahwa manusia memiliki sifat ”latah”  atau contagion. Secara rinci, beberapa fungsi yang akan dibutuhkan untuk mengoperasikan dan memelihara sistem IT dalam pengelolaan administrasi adalah sbb :

Personal yang terkait langsung dengan aplikasi, sbb :

•  Operator kesekretariatan

•  Pengelola Aplikasi

Personal pendukung operasi IT, sbb :

•  Pengelola jaringan (Network Adm.)

•  Pengelola sistem server / layanan terkait

•  Teknisi hardware.

•  Teknisi software.

Personal pengelola administrasi, sbb :

•  Pusat pengolah data administrasi

•  Office Manager

Pada tahap Alih-Kelola, kebijakan untuk melakukan  Trainning atau Recruitment harus ditentukan.

3. Tahap Pengoperasian .

Pengoperasian sistem oleh semua pihak terkait secara  intensif tentunya merupakan sasaran yang diinginkan  dari implementasi IT. Namun demikian dalam  kenyataannya banyak sistem IT dalam organisasi  yang beroperasi kurang optimal karena kurangnya  kesadaran dan partisipasi semua personal. Dalam hal  ini dibutuhkan persiapan yang matang setelah tahap  Alih-Kelola untuk ”menularkan” ke semua personal.

Terdapat 3 langkah kegiatan yang dapat dilakukan yaitu :

1).  Sosialisasi ke semua personal.

Pemberitahuan dan pengenalan sistem yang akan diimplementasikan telah mulai dilakukan  pada tahap Alih-Kelola dan lebih intensif lagi  di tahap ini. Fungsi dan manfaat sistem adalah  fokus dalam sosialiasi yang disebarluaskan dengan berbagai cara seperti : pemberitahuan via surat, pengumuman, edaran, penjelasan  dalam rapat-rapat atau meeting, presentasi dan demo, dll

2).  Instruksi bersifat “Top-down”.

Pada dasarnya manusia memiliki sifat resisten  terhadap perubahan. Terlebih lagi di dalam  pekerjaan, hal-hal yang telah rutin dilakukan akan sulit untuk diubah. Dibutuhkan upaya ekstra untuk “memaksa” semua personal dalam organisasi menggunakan sistem IT yang dikembangkan. Perlu dukungan dari ”atas”  untuk itu bahkan untuk membiasakan penggunaan layanan yang umum seperti: email, web, file management, dll. Pemberian seminar atau pelatihan internal dan pengiriman edaran, perintah, atau dokumen lain via sistem baru dapat menjadi pertimbangan.

3).  Monitoring & Evaluasi .

Hal lain yang tidak kalah penting adalah “mengukur” aktivitas operasi dan feedback untuk dilakukan penyempurnaan. Kegiatan ini  terutama perlu dilakukan secara intensif di masa awal tahap operasi karena terkait  langsung dengan point 2. di atas. Diupayakan agar semua personal yang terlibat memberikan ”laporan” atau konfirmasi dan catatan terhadap penggunaan sistem.

Terlihat bahwa dalam ketiga kegiatan di atas, faktor pimpinan organisasi tetap memegang peranan yang sangat vital.  Dukungan maksimal dari pimpinan akan sangat menentukan waktu dan tingkat keberhasilan implementasi IT.

Sebagai bagian akhir dari penyampaian ini, hal – hal yang perlu ditegaskan lagi adalah bahwa  Strategi implementasi harus mulai dipertimbangkan sejak tahap perencanaan, kemudian peningkatan kemampuan SDM harus dilakukan secara terus menerus mengikuti perkembangan teknologi, Keterlibatan personal lain di luar personal bagian IT akan mempengaruhi keberhasilan implementasi IT. Perlu dilakukan tahap Alih-Kelola pada setiap implementasi sistem IT baru yang didukung dari  top management menjadi faktor penting untuk mempercepat tahap  pengoperasian dan effisiensi pemeliharaan sistem.

Daftar Pustaka.

Jogiyanto HM, “Sistem Teknologi Informasi”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003.

Richardus Eko Indrajit, “Tata Kelola Manajemen Teknologi Informasi”,

http://www.blogster.com/artikelekoindrajit/tata-kelola-manajemen-teknologi-informasi

Richardus Eko Indrajit, “Electronic Government”, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002.

Advertisements

Analisa Pemanfaatan Aplikasi ICT Bagi Kegiatan Public Relation.

E-PR

I. E-PR dan Teknologi Informasi.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat dewasa ini telah membuat dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Mulai dari wahana teknologi komunikasi yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi hingga internet dan telepon genggam dengan aplikasi tanpa kabel, informasi berkembang dengan sangat cepat. Perubahan informasi kini tidak lagi dalam jangka minggu atau hari bahkan jam melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik dan ini dapat diperoleh melalui sumber informasi yang disebut dengan internet.
Internet merupakan kumpulan atau jaringan komputer diseluruh dunia yang mengembangkan APARNET, suatu sistem komunikasi yang etrkait dengan pertahanan keamanan yang dikembangkan pada tahun 1960-an. Manfaat sistem komunikasi yang berjaringan ini dengan cepat ditangkap oleh para peneliti dan pendidik secara umum. Melalui internet, kita dapat merekam dan mendokumentasikan informasi melalui chip yang ada di komputer kemudian digabungkan dengan telepon, komputer, dan modem.
Internet telah berkembang secara fenomenal, baik dari segi jumlah host computer (komputer induk) maupun dari segi penggunanya, selama beberapa tahun terakhir. Salah satu pengukuran terbaik melalui besarnya internet ini adalah host computer.

Host computer adalah sebuah komputer yang menyimpan informasi yang dapat diakses melalui jaringan. Dari tahun 1959-1999, jumlah host komputer meningkat mulai 5.9 juta menjadi 43.2 juta (Network Wizards, 1999). Perkembangan internet yang begitu pesat dengan pemakai yang terus bertambah menjadikan aktivitas komunikasi data dan informasi semakin mudah dan cepat. Dewasa ini, diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta diseluruh dunia (http://www.rad.net.id/homes/edward/intnasic/1.htm). Data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tahun 1995 terdapat 30 juta populasi pengguna dan 100 juta pengguna pada tahun 1998. Diperkirakan tahun 2010 semua orang akan terhubung ke internet dengan asumsi pertumbuhan setiap bulan sebesar 10% (http://www.ai3.itb.ac.id/news/sejarah_networklain.html).
Di Indonesia, pengguna internet menurut data asosiasi penyelenggara jasa internet di Indonesia (APJIT) tahun 1996 hanya 110.000 orang dan tahun 2002 meningkat menjadi 220.000 orang. Hasil survei pengguna internet tahun 1999 menunjukkan karakter pengguna internet di Indonesia berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh kaum laki-laki dengan persentase hampir 90% sedangkan kaum wanita hanya lebih kurang 10% (majalah internet, 25 Juli 2002).

Hadirnya penggunaan internet secara massal melalui sistem komunikasi yang bermediasi komputer disebut oleh Rogers “teknologi media komunikasi baru” (1986). Faktor utama yang berperan dalam pesatnya pertumbuhan internet adalah potensi e-commerce atau transaksi jual-beli dari internet. Pajak e-commerce tingkat dunia adalah $21.1 juta pada tahun 1999 naik 154% dari tahun sebelumnya (ItelliQuest,1999). Penghasil pajak terbesar dalam web adalah penjualan buku. Amazon .com mencatat penjualan sebesar $250 juta selama 4 bulan terkhir tahun 1998. Berlo (1975) dalam Fisher (1986) menamakan ledakan informasi dan revolusi teknologi yang terjadi dewasa ini sebagai “revolusi” dalam komunikasi. Dofivat (1967) dalam Rahmat (1999) berpendapat bahwa teknologi komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Liliweri (2003) menyebut gejala ini dengan istilah masa budaya elektronik.

Beberapa ciri dari budaya elektronik yang dikemukakannya antara lain: (1) membagi informasi dengan sangat cepat; (2) proses penggandaan dan banyak copy diperoleh dengan cara yang mudah; (3) satu copy dapat diakses oleh orang banyak; (4) pelajaran baru kini disebut sebagai membaca linier; (5) ada semacam konsensus yang berjangka waktu lama, tetapi dengan partisipasi yang lebih seimbang; (6) menekan status dan tatanan sosial melalui tanda-tanda tertentu; (7) etiket tidak terlalu kuat sehingga individu bebas memperluas norma-norma yang dipertukarkan; (8) kerja kolaboratif bisa tepat pada waktunya dan jaraknya lebih besar; (9) komunikasi dapat membagi aspek-aspek bidang lisan maupun tulisan; (10) memberi sumbangan pada pembaharuan dan pemanfaatan organisasi baru; (11) alat-alat khusus sangat diperlukan sebagai syarat untuk berpartisipasi; (12) telah terjadi pengayaan informasi disatu pihak dan terjadi jurang kemiskinan di pihak lain.
Teknologi komunikasi baru ternyata juga memberi pengaruh terhadap meningkatnya bidang penelitian komunikasi. Isu-isu yang dikaji telah dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi. Salah satu bidang penelitian baru yaitu penelitian terhadap isi pesan e-mail (electronik mail) yang merupakan salah satu fasilitas yang paling banyak digunakan di internet. Hal ini karena e-mail merupakan alat komunikasi paling murah dan cepat. Melalui e-mail kita dapat berhubungan dengan siapa saja yang terhubung ke internet di seluruh dunia. Dalam berbagai survei Internet yang dapat dilihat di http://dir.yahoo.com/computers and_internet/statistics_and_Demograpgics/surveys, maupun dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi, ternyata aplikasi tama yang digunakan pengguna internet untuk berkomunikasi dan bersilaturrahmi bukan sekedar akses web. Survei yang dilakukan oleh GVU (http://www.gvu.gatech.edu/user_surveys/) terlihat bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi yang paling penting di internet (Onno:2003).
Salah satu kegunaan unik dari fasilitas e-mail ini yaitu terdapatnya pengguna yang berada pada grup tertentu. Penggunaan e-mail untuk forum diskusi kelompok yang besar dikenal dengan teknik atau aplikasi mailing list. Selanjutnya mailing list menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Anggota grup akan menerima pesan-pesan yang terkirim ke alamat group secara serentak.
Mailing list ini memberi setiap pribadi suatu wewenang untuk mengirimkan berbagai pesan yang berisi aneka ragam pikiran kepada ribuan orang tanpa disunting. Mailing list di sini berperan sebagai sebuah laporan pelanggan berkesinambungan karena setiap orang tak henti-hentinya menyumbangkan pandangan, pengalaman, peringatan melalui e-mail mereka.
Berawal dari hal inilah kemudian muncul apa yang disebut dengan istilah “demokratisasi informasi” yang memandang fasilitas ini benar-benar suatu forum demokratis karena pada jaringan ini komunikasi setiap orang ditangani secara merata. Ditambahkan lagi fasilitas komunikasi baru ini menjadi media diskusi antara pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda.
Adanya teknologi internet dalam dunia khususnya dunia PR sangat terbantu. Karena teknologi ini dapat membantu seorang PR untuk lebih cepat menginformasikan berita atau pesan-pesan pada khalayak dengan cepat dan efisien. Lebih dikenal dengan sebutan E-PR.
Dengan demikian penulis tertarik untuk meneliti judul di atas. Bagaimana efektivitas suatu perusahaan dalm menyajikan informasi pada khalayak khususnya dikalangan mahasiswa? Karena seperti kita tahu membuat suatu penelitian untuk skripsi yang dilakukan pada suatu perusahaan kebanyakan mahasiswa berhubungan langsung dengan PR perusahaan tersebut dan komunikasi tersebut terjadi dalam teknologi E-PR.

II. Pengertian E-PR.

Public Relations adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya. Kebanyakan perusahaan besar merupakan milik publik. Harga sahamnya secara signifikan juga dapat mempengaruhi kemampuan dan kebebasan mereka untuk mengelola masa depannya. Sebuah perusahaan yang undervalue misalnya tidak dapat mengajukan pinjaman kepada bank seperti perusahaan yang value. Sekalipun demikian harga saham tidak ditentukan oleh berbagai opini dari sebagian besar pengamat pasar modal dan para investor.
Di sinilah PR berperan menjadi senjata yang menentukan dalam memastikan bahwa mereka mampu melihat perusahaan secara adil, PR juga menjadi sarana yang ampuh dalam mengelola hubungan yang harmonis antara pihak perusahaan dengan para pengamat dan investor yang bisa memiliki pengaruh besar bagi masa depan perusahaan. PR dapat menyampaikan aspirasi mengenai berbagai bidang termasuk hubungan komunitas, isu-isu lingkungan, bidang keuangan, urusan konsumen, isu-isu manajemen, penanganan krisis dan berbagai isu penting lainnya yang terkait dengan kegiatan PR. Dalam situasi seperti ini, PR sangat dituntut peran aktifnya. PR dapat memainkan peranan sentral pada level perusahaan. PR sangat fleksibel, mungkin melebihi iklan, PR dapat merespons berbagai peristiwa dengan sangat cepat. Dalam hubungan dengan pers kekuatan terbesar yangdapat ditawarkan PR adalah menyangkut kredibilitas. Namun kelemahan uatama dari kegiatan PR adalah kurangnya pengawasan. Kita hampir tidak bisa menjamin bahwa pesaing kita akan disampaikan atau bahkan tidak sama sekali. Kelemahan ini  sebenarnya dapat diatasi melalui persiapan perencanaan strategi PR secara matang. PR dalam pelaksanaannya ada dua yaitu E-PR dan PR Konvensional.

E-PR adalah inisiatif PR yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitasnya atau disebut cyber PR. Pengertian E-PR sendiri berasal dari kata:

E adalah electronic sama halnya dengan E sebelum kata mail atau commerce yang mengacu pada media elektronik internet.

P adalah Public tidak pada publik tetapi pada konsumen juga tidak mengacu pada satu jenis pasar konsumen namun berbagai pasar atau public audience.

R adalah Relations merupakan hubungan yang harus dipupuk antara pasar dan bisnis.

Diperlukan E-PR karena ribuan one-to–one relations dapat dibangun secara simultan melalui media internet karena sifatnya yang interaktif karenanya merupakan sarana untuk membangun hubungan yang ampuh bagi sebuah dunia bisnis.

III. Peranan dan Fungsi Public Relations.

Peranan seorang Public Relations berbeda-beda tergantung jenis usaha dan struktur organisasinya. Pada umumnya PR berperan untuk membangun komunikasi yang sinergis baik dalam internal perusahaan maupun eksternal. PR adalah tentang reputasi, dimana reputasi memegang peranan yang sangat crucial bagi suatu usaha bisnis. Di tengah persaingan bisnis yang kian sengit, reputasi membantu menciptakan loyalitas yang memegang peranan penting bagi eksistensi bisnis kita.

Keterkaitan Internet dengan Kinerja Public Relations
E-PR

E-PR merupakan singkatan dari bahasa Inggris, yaitu Electronic Public Relations yaitu yang artinya PR yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitisnya. Di Indonesia lebih popular dengan nama Cyber Public Relations.

Dunia E-PR
E-PR tidak bisa dipisahkan dari berbagai perangkat seperti email, kartu nama elektonik, autoresponder, dan juga direct mail dan masih banyak lagi seperti blog, facebook dll.
Email merupakan sarana yang efektif untuk membangun dan meruntuhkan reputasi.  Email sebagai alat komunikasi untuk mmbangun komunitas online, menjual produk, dan menyediakan customer service yang baik. Banyak yang harus diperhatikan dalam menulis email yaitu untuk menuliskan subject line email yang menarik, menggunakan nama pribadi walaupun dengan email perusahaan, fokus pada satu topik, menghindari penggunaan attachment.
Sedangkan dalam menerima email, kita harus sesegera mungkin dalam menjawab email yang sopan dan penuh respek.

Kartu nama elekronik (sig.line) adalah satu-satunya promosi tidak langsung yang diterima komunitas online dan milis. Hal ini juga menggugah orang lain untuk masuk ke situs web anda.

Autoresponder adalah program aplikasi yang mirip dengan mesin penjawab otomatis yang sudah diprogram untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama. Isi pesan email yang dikirimkan melalui autoresponder akan menjadi faktor yang menentukan untuk membangun merek sekaligus mengonversi penerima email untuk menjadi pelanggan.
Direct mail adalah upaya untuk menjangkau publik anda dalam waktu yang singkat, cepat dan efisien.Tetapi kita harus hati-hati dalam memilih perusahaan direct mail yang tepat, bereputasi baik dan sesuai dengan fokus bisnis kita.

IV. Public Relation Dimasa Depan.

Fenomena Public Relations di Dunia Internet ini menunjukan bahwa 5 sampai 10 tahun yang akan datang teknologi informasi akan menguasai sebagian besar pola kehidupan masyarakat, badan usaha maupun pemerintah.

A. Pengertian PR Sebagai Suatu Seni.

“PR adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian public yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan public terhadap seseorang atau sesuatu organisasi atau badan (Howard Bonham)”.

B. Perkembangan PR dalam Teknologi  Dunia Baru.

Seiring berjalannya waktu perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) juga semakin canggih. Tak jarang dari kemajuan Iptek yang ada, seringkali menawarkan solusi dengan memberi kemudahan akan setiap kesulitan yang dihadapi dalam melakukan aktivitas pekerjaan termasuk PR.

Salah satunya media komputer yang dilengkapi dengan internet. Sayangnya, tingkat kesadaran masyarakat terhadap manfaat teknologi seperti internet sampai saat ini masih minim. Hal ini terbukti dari cukup banyaknya perusahaan yang memiliki informasi dan ditaruh di dalam situs webnya, namun terkubur dalam kuburan informasi supercepat di dunia maya Karena kurang atau tidak ada yang mengunjunginya. Untuk itu, sungguh sayang sekali apabila kemudahan dari fasilitas ini hanya dilewatkan begitu saja.

Media internet semula tidak dirancang untuk kepentingan komersial, namun sebagai alat komunikasi untuk menyebarluaskan informasi. Inilah kunci keberhasilan suatu bisnis di internet jika mengingat tujuan semula media internet diciptakan. Dengan kemampuan menyesuaikan tujuan media internet seperti semula, pada dasarnya kita bisa memanfaatkan sebagai media PR dan bisnis. Untuk mencapai hal itu, tentunya dibutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi sehingga kepercayaan massa dapat tercipta dan melibatkan hubungan yang saling memberikan manfaat dengan target public.

Pengertian E-PR secara singkat dapat diartikan sebagai :

“Kegiatan kehumasan yang dilakukan di dunia Internet. Seluruh kegiatan kehumasan dapat dilakukan didalam internet dari mulai melakukan kegiatan publikasi sampai melakukan customer relations management”

E-PR adalah penerapan dari perangkat ICT (Information and Communication Technologies) untuk keperluan PR.

Dunia yang ditenggarai oleh Internet, di mana setiap aktivitas secara langsung atau tidak langsung ditenggarai oleh Internet, karena itu setiap bentuk aktivitas PR semakin membutuhkan satu atau lebih unsur ICT.

Hal ini berarti bahwa setiap praktisi PR perlu memiliki perangkat ICT dan terampil dalam menggunakannya, dan tentu dalam hal ini tanpa ICT kegiatan PR mereka tidak akan efektif. Pada prinsipnya untuk menggunakan perangkat tersebut tidak diperlukan suatu keahlian atau learning curve yang tinggi.

E-PR adalah satu-satunya cara untuk membangun brand di dunia yang tidak kasat yaitu dunia maya mengingat internet telah menghadirkan dunia maya di samping dunia nyata, demikian seperti yang dikatakan oleh David Phillips, penulis dari buku terkenal yg berjudul Online Public Relations, sewaktu mendefinisikan E-PR ke dalam beberapa pengertian.

“Menurut Ardianto (II004:14), dalam pelaksanaannya PR menggunakan komunikasi untuk memberitahu mempengaruhi, dan mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku publik sasarannya. Hasil yang dicapai dari kegiatan PR pada intinya adalah good image (citra baik), goodwill (itikad baik) , mutual understanding (saling pengertian), mutual confindece (saling mempercayai), mutual appreciation (saling menghargai), dan tolerance (toleransi).”

Seorang PR wajib mampu membuat sebuah program PR yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Program PR terbagi pada segmentasi program itu sendiri, yaitu :

  1. Customer Relations
  2. Employee Relations
  3. Community Relations
  4. Government Relations
  5. Media Relations

Masing-masing target market mempunyai kepentingan yang berbeda-beda pada perusahaan dan hubungan baik dan citra baik yang patut dibangun dan dijaga oleh kegiatan PR pada setiap stakeholder perusahaan.

C.  Marketing E-Public Relations

Strategi marketing PR online menjadi hal yang sangat penting untuk dikuasai. Hal ini berhubungan dengan banyaknya perusahaan yang sudah menggunakan Pentingnya mengetahui strategi marketing PR online adalah bagaimana cara website perusahaan kita tetap berada di posisi halaman 1, 2, 3 pada Google.

Tentu saja, pemahaman ini juga tidak lepas dari teori perencanaan PR. Intinya, sebagai praktisi PR, kita harus dapat mengoptimalkan media internet sebagai media baru PR. bagaimana membangun strategi Public Relations di online, khususnya di social media. Strategi itu harus dibangun berdasarkan user insight lokal, bukan user insight internasinal. Saya memang memberikan beberapa data user behavior pengguna social media global hasil riset Marketing Sherpa.

Public relations terpecah ke dalam marketing public relations, corporate public relations. Tampak jelas disini public relations yang bergrand theory pemasaran tidak lain marketing public relations dimana berlangsung percampuran konsep public relations dengan pemasaran. Apabila ditanyakan, Untuk apa marketing public relations? terjawab singkat ternyata membentuk citra perusahaan yang berdampak terhadap keputusan pembelian. Hal tersebut, telah diteliti sendiri marketing public relations berpengaruh terhadap citra perusahaan, citra perusahaan berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

D. E-Public Relations Sebagai Sebuah Kampanye PR

Kegiatan PR bisa lebih fleksibel dari yang dilakukan di dunia nyata, ketika program kehumasan konvensional mengeluarkan budget hampir ratusan juta dalam sebuah perusahan besar, jika program tersebut dilakukan melalui Internet akan jauh lebih murah.

1. Publikasi

Kegiatan publikasi yang di lakukan PR dalam internet dapat dilakukan dengan jalan mengikuti mailing list-mailing list yang sesuai dengan target market perusahaan kita. Banyaklah menuliskan tulisan berupa artikel, press release mengenai perusahaan anda dalam milis tersebut. Dengan begitu seluruh anggota milis akan kena terpaan publikasi yang telah PR lakukan.

Selain mengikuti mailing list yang sesuai dengan target market perusahaan, PR juga harus secara berkesinambungan memproduksi e-newsletter kepada member website perusahaan anda. Tetapi, jangan sekali-kali melakukan spamming terhadap pengguna internet, karena dengan melakukan spamming maka kredibilitas perusahaan anda akan hancur. Karena spamming adalah kegiatan berkonotasi negatif bagi pengguna

internet, spamming bisa dikatakan sebagai kegiatan yang memaksakan kehendak dalam memberikan informasi. Jalan yang paling aman adalah mengirimkan newsletter pada anggota website anda yang secara sukarela mendaftarkan alamat emailnya untuk dikirimkan informasi tentang perusahaan anda.

2. Menciptakan Berita (Media Relations)

Untuk menjaga hubungan baik dengan wartawan dapat dilakukan melalui email, jika seorang PR mempunyai database alamat email seorang wartawan akan lebih sangat mudah dalam mengirimkan siaran pres. Jika perusahaan anda mempunyai siaran pres yang butuh disampaikan dengan segera, anda tinggal sekali “click” maka siaran pres anda akan langsung sampai di meja wartawan.

Untuk tetap menjaga hubungan baik, anda bisa menyapa wartawan tersebut lewat email menanyakan kabar wartawan tersebut dan kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. Malah jika anda sudah sangat akrab dengan wartawan tersebut anda dapat melakukan wawancara / konferensi dengan menggunakan Instant Messenger seperti Yahoo Messenger, ICQ, atau yang lainnya.

E. Bentuk – bentuk Pesan Yang digunakan

  • E-mail&IM(InstantMessenger)

E-mail merupakan metode yang banyak dipilih oleh para humas untuk menghubungi pers satu per satu dengan mengirimkan pitch letters. E-mail juga digunakan untuk news release kepada pers, tetapi tidak semua pers mau news release melalui e-mail.

  • Advertising in Cyberspace Message

Sifatnya yang interaktif menjadi keuntungan dari internet, dimana terjadi pertukaran pesan secara dua arah. Internet memungkinkan pengiklan untuk berkomunikasi dengan khalayaknya dengan cara non-tradisional sehingga dapat membangun relationship yang kuat dan personal antara khalayak dengan brand.

  • Interactive News Release Message

Pesan Interactive News Release dikirim melalui e-mail atau di post pada sebuah website untuk dibaca oleh masyarakat atau pada area khusus pers.

F. Analisis E-Public Relations.

PR dimasa depan mampu langsung menjangkau audiens mereka tanpa harus diintervensi oleh para penyunting naskah maupun para reporter yang bertindak sebagai penjaga pintu dan yang melakukan sensor terbitnya suatu informasi. Membangun hubungan yang bersifat one to one secara cepat dan interaktif .  Lebih fleksibel & ekonomis dari PR yang dilakukan di dunia nyata.

Walaupun Indonesia masih dalam tahap awal perkembangan pasar internet, namun peningkatan jumlah pelanggan internet yang ada saat ini menunjukan bahwa peluang pasar internet di Indonesia cukup besar karena persentasi jumlah pelanggan internet menunjukan kenaikan angka yang sangat tinggi.

Perkembangan tersebut juga telah menumbuhkan peningkatan jumlah perusahaan penyedia jasa layanan internet / ISP (Internet Service Provider). Hal ini menunjukan bahwa peluang pasar yang dilahirkan dari internet cukup besar. Dari semua kondisi yang terjadi, yang utama bagi user internet Indonesia adalah akses yang murah dan cepat, sehingga mereka bisa menikmati perkembangan teknologi informasi, terutama user internet di tingkat masyarakat daerah. Semua itu akan terwujud jika pengambil kebijkan di bidang ini bisa memiliki pandangan yang seimbang, baik dari segi user internet (masyarakat), maupun dari segi perusahaan penyedia jasa layanan internet dan teknologi informasi. Kiranya dengan kegiatan PR di dunia Internet ini menggugah para praktisi PR untuk menggunakan internet untuk praktik kehumasan.

G. Bagian-Bagian dari Fungsi PR:

Hubungan Internal, adalah bagian khusus PR yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling bermanfaat antara manajer dan karyawan tempat organisasi mengantungkan kesuksesannya.
Publisitas, adalah sumber-sumber informasi yang disediakan oleh PR dan digunakan oleh media karena informasi itu memiliki nilai berita. Metode penempatan pesan di media ini adalah pesan di media ini adalah metode yang tak bisa dikontrol (uncontrolled) sebab sumber informasi tidak memberi bayaran kepada media untuk pemuatan informasi tersebut.
Advertising, informasi yang digunakan oleh PR untuk menjangkau audien yang lebih luas, bukan untuk konsumen yang menjadi sasaran marketing, dimana informasi yang ditempatkan di media oleh sponsor tertentu yang jelas identitasnya yang membayar ruang dan waktu penempatan informasi tersebut. Ini adalah metode terkontrol dalam menempatkan pesan di media.
Press Agentry,adalah penciptaan berita dan peristiwa yang bernilai berita untuk menarik media massa dan mendapatkan perhatian publik. Banyak praktisi PR kadang-kadang menggunakan taktik press agentry untuk menarik perhatian media kepada kliennya, organisasinya, atau tujuannya. Tetapi PR lebih dari sekedar press agentry.
Public Affairs adalah bagaian khusus dari PR yang membangun dan mempertahankan hubungan pemerintah dan komunitas lokal dalam rangka memengaruhi kebijakan publik.
Lobbying adalah bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah terutama dengan tujuan memengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.
Manajemen Isu adalah proses proaktif dalam mengantisipasi, mengindentifikasi, mengevaluasi, dan merespon isu-isu kebijakan publik yang memengaruhi hubungan organisasi dengan publik mereka. Secara administratif atau secara konseptual, manajemen isu adalah bagian fungsi PR, akan tetapi, jika dilihat sebagai komunikasi persuasif, ia menjadi taktik untuk memengaruhi kebijakan publik, bukan sebagai bagian dari perencanaan strategi organisasi.
Hubungan Investor adalah bagian dari PR dalam perusahaan korporat yang membangun dan menjaga hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan dengan shareholder dan pihak lain di dalam komunikasi keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai pasar
Pengembangan adalah bagian khusus dari PR dalam organisasi nirlaba yang bertugas membangun dan memelihara hubungan dengan donor dan anggota dengan tujuan mendapatkan dana dan dukungan sukarela

H. Perbedaan PR dan Pemasaran.

Meski tidak selalu didefiniskan secara jelas dalam praktiknya, marketing dan PR dapat dibedakan secara konseptual dan hubungannya dijelaskan.
• Keinginan dan kebutuhan orang adalah aspek fundamental bagi konsep marketing.
• Apa yang orang orang inginkan atau butuhkan akan diterjemahkan sebagai permintaan konsumen.
• Pemasar menawarkan produk dan jasa untuk memuaskan permintaan tersebut. Konsumen memilih produk dan jasa yang memberikan kegunaan, nilai, dan kepuasan paling besar.
• Terakhir, pemasar menyerahkan produk dan jasa kepada konsumen untuk ditukar dengan sesuatu yang bernilai
Menurut ahli pemasaran Philip Kotler:”Pertukaran, yang merupakan inti dari konsep marketing, adalah proses mendapatkan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu yang sebagai imbalannya.”(Philp Kotler, Marketing Management,11, th ed.(Upper Saddle River,NJ:Prentice Hall,2003),12.
Transaksi inilah yang membedakan fungsi marketing-dua pihak saling menukar sesuatu yang bernilai bagi kedua belah pihak. Ringkasnya marketing menciptakan hubungan di mana pertukaran terjadi-kepemilikan berpindah tangan. Tujuan marketing adalah menarik dan memuaskan konsumen secara terus menerus dalam rangka mengamankan “pangsa pasar”dan mencapai tujuan ekonomi perusahaan. Untuk tujuan itu, publisitas produk dan hubungan media digunakan untuk mendukung marketing. Karena spesialis PR biasanya tahu cara menulis untuk media itu, dan tahu cara bekerja menghadapi wartawan, serta tahu merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal, maka pemasar meminta bantuan PR dalam menjalankan program marketingnya. Ringkasnya PR yang efektif memberikan kontribusi kepada upaya marketing dengan menjada lingkungan politik dan sosial agar tetap ramah kepada perusahaan/organisasi.

Daftar Pustaka :

Cutlip, M. Scott & Center, H. Ellen. 1971, Effective Public relations. London : Prentice Hll International Inc.
Frida kusumastuti, 1997. Kegiatan-kegiartan Humas, Malang : UMM Press.http://www.goechi.com/newsletter4.html

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/search/label/Public%20Relations.

http://www.goechi.com/newsletter4.html

http://yusdieby.blogspot.com/2008/08/efektivitas-e-pr.html

http://dyahsuryani.blogsome.com/2007/01/15/e-pr-versus-pr-konvensional/